Beranda > Informasi > BPPT Identifikasi Produk Sabut Kelapa untuk Dikembangkan

BPPT Identifikasi Produk Sabut Kelapa untuk Dikembangkan


Pada saat penandatanganan nota kesepahaman antara AISKI dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kepala BPPT Marzan A Iskandar meminta para perekayasa dan peneliti di jajaran BPPT untuk terus melakukan inovasi dan pengkajian terhadap potensi-potensi produk dari bahan sabut kelapa.

Demikian diungkapkan Marzan dalam sambutannya usai penandatanganan nota kesepahaman antara AISKI dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tentang penerapan teknologi pemanfaatan sabut kelapa di gedung BPPT, Jakarta, Kamis (27/9/2012).

“Saya meminta para perekayasa dan peneliti segera melakukan diskusi dan mengidentifikasi produk sabut kelapa yang masih bisa dikembangkan,” kata Marzan.

Sebagaimana diketahui, Indonesia yang dikenal sebagai produsen buah kelapa terbesar di dunia dengan luas areal kebun kelapa 3,8 juta hektar, masih tertinggal jauh dari Srilanka dan India dalam hal pemanfaatan sabut kelapanya.

Meski Srilanka hanya memiliki areal kebun kelapa seluas 0,4 juta hektar dan India memiliki areal kebun kelapa seluas 1,9 juta hektar, namun keduanya mampu memasok 70 persen kebutuhan sabut kelapa dunia.

Sementara Indonesia baru mampu berkontribusi sekitar 10 persen terhadap kebutuhan sabut kelapa dunia yang jumlahnya mencapai 500 ribu ton per tahun.

Ketua Umum AISKI Efli Ramli mengatakan, secara nasional, Indonesia baru mampu mengolah sabut kelapanya sekitar 3,2 persen dari total produksi sekitar 15 miliar butir per tahun.

Dengan demikian, jumlah sabut kelapa Indonesia yang belum diolah menjadi komoditas yang bernilai ekonomi mencapai 14,5 miliar butir per tahun.

Sementara itu, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari, menambahkan, harga penjualan sabut kelapa petani ke industri berkisar Rp 40–Rp 60 per butir.

Dengan demikian, petani kelapa Indonesia kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp 725 miliar per tahun karena ketidakberdayaan dan ketidaktahuannya akan manfaat sabut kelapa.

“Dalam industri sabut kelapa, dikenal ada 2 produk yang dihasilkan, yakni coco fiber dan coco peat. Coco fiber, dalam perdagangan internasional dimanfaatkan sebagai bahan baku industri spring bed, matras, bantal, sofa, karpet, jok mobil, tali, jaring, dan lain-lain,” jelasnya.

Sedangkan coco peat, penggunaannya masih terbatas sebagai media tanam. Karena itu, industri sabut kelapa Indonesia mengalami masalah besar dalam penanganan coco peat ini karena daya serap pasar yang sangat kecil.

Di negara-negara maju, kata Ady, coco peat ini sudah dapat diolah menjadi produk yang bernilai jual tinggi, namun lagi-lagi di pasar ekspor, Indonesia selalu kalah bersaing dengan Srilanka dan India.

Setiap butir sabut kelapa menghasilkan coco fiber sekitar 25 persen atau 0,15 kilogram dan coco peat sekitar 65 persen atau 0,39 persen, sisanya 10 persen menguap.

Sumber TRIBUNNEWS.COM

Kategori:Informasi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: